终浍鲦
2019-05-23 10:27:04
2017年5月29日下午7点19分发布
2017年5月29日下午7:20更新

JAUH DARI KELUARGA。 terpaksa merayakan Ramadan tahun ini terpisah dari keluarga akibat peperangan di kota Marawi,Mindanao,Filipina selatan。 Foto oleh Rappler

JAUH DARI KELUARGA。 terpaksa merayakan Ramadan tahun ini terpisah dari keluarga akibat peperangan di kota Marawi,Mindanao,Filipina selatan。 Foto oleh Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Ketika Ramadan disambut dengan suka cita di seluruh dunia,tidak begitu yang dirasakan oleh warga di kota Marawi,Filipina selatan。 Peperangan antara kelompok militan Maute dengan militer Filipina sudah memasuki hari ke-6。 Situasinya semakin memburuk setiap harinya。

Berdasarkan数据杨dimiliki oleh militer pada Minggu,28 Mei,peperangan itu telah menewaskan 19 warga sipil。 Sementara,总semua orang yang tewas mencapai 85 jiwa。

Sekitar 2.000 orang lainnya terjebak di antara peperangan antara militer Filipina dengan kelompok militan。 Maka,bagi mereka Ramadan tidak lagi terasa menyejukan bagi mereka。 Justru,umat穆斯林kerap merasa是 - dan harus waspada terhadap situasi di sana。

Salah satu warga yang merasakan perbedaan dalam Ramadan tahun ini adalah Mohammad Hayef Mokhtar,seorang pelajar di kampus MSU di kota Marawi。 Kepada Rappler yang menemuinya,Mokhtar mengaku ini merupakan Ramadan pertamanya jauh dari keluarga。

“Kami baru saja(berkomunikasi melalui telepon)。 'Apakah kamu baik-baik saja?' 'Saya baik-baik saja',“ujar Mokhtar pada Sabtu,27 Mei。

Demi menyelamatkan diri,dia memilih ikut ke dalam sebuah truk pembuangan yang membawanya ke sebuah kampus yang cukup jauh di kota Illigan yang tidak begitu jauh dari kota Marawi。 Tujuannya,untuk menghindari area konflik。

Dia memilih tinggal di dalam gedung kampus selama beberapa hari sambil berharap pertempuran segera berakhir。 Tetapi,memasuki hari keenam,tanda-tanda pertempuran usai belum nampak。

Jika nanti tiba waktunya untuk proses evakuasi,dia memilih untuk mengungsi ke rumah kerabatnya di dekat Marantao。 Tetapi,jalan menuju ke sana masih belum aman。

“Di antara warga Maranao,seperti saya,kami tidak lagi berpikir bahwa kami takut atau tidak,karena kami telah terbiasa。 Kami hanya perlu menunggu peperangan berhenti。 Tetapi,hingga saat ini belum,“kata dia。

Bagi Mokhtar kampus MSU di kota Iligan adalah rumahnya untuk sementara waktu。

“Saya ingin berterima kasih untuk pusat pengungsian ini。 Akomodasinya sangat bagus。 Seperti seolah kamu makan di rumah,“ujarnya。

Pihak kampus pun begitu mendukung。 Mereka akan membantu membangunkan para mahasiswa di pagi hari untuk salat subuh dan sahur。 Tetapi,tetap saja Mokhtar merasa ada yang berbeda merayakan Ramadan dengan orang asing。

“Saya merasa nyaman di sini,tetapi perasaan bahwa kamu jauh dari orang yang kamu cintai,tetap membuatnya ada yang berbeda,”kata dia。 - Rappler.com